Selasa, 18 Juni 2013

Kemacetan Soekarno-Hatta dan Universitas Brawijaya

Kemarin, saya tidak sempat melihat lokasi ujian tulis Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Seharusnya tadi pagi saya berangkat lebih awal agar tidak terlambat dan tersesat di Universitas Brawijaya (UB) saat berangkat ujian.

Tapi ternyata tadi pagi saya bangun kesiangan. Tidak sempat sarapan, saya berjalan kaki dengan cepat menuju Jalan Bunga Coklat untuk memberhentikan angkutan kota (angkot).

Belum sempat mendapatkan angkot, ternyata situasi di jalan Soekarno-Hatta sudah macet parah. Akhirnya saya tidak jadi menumpang angkot dan memilih jalan kaki menuju lokasi, saya berpikir bahwa jalan kaki lebih cepat daripada naik angkot di jalanan yang macet.

Dikarenakan suhu udara masih rendah, perjalanan menuju Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tidak terasa melelahkan dan untungnya saya tidak tersesat, padahal saya tidak bertanya tentang arah menuju lokasi kepada orang lain, tapi hanya mengandalkan peta UB yang saya unduh kemarin dari internet. Akhirnya sampailah saya dengan selamat di Gedung B FISIP UB belasan menit sebelum waktu ujian dimulai.


Ujian tulis selesai, saya berencana pulang ke rumah dengan naik angkot, agar tidak kepanasan. Sesampainya di Tugu UB, kemacetan parah menghiasi bundaran di tengah UB tersebut, sepertinya jumlah pengendara melebihi jumlah keluarga besar UB.

Saya melanjutkan perjalanan ke gerbang UB, ternyata terjadi kemacetan yang lain di Jembatan Terusan Borobudur (jembatan Suhat/jembatan UB). Lebih parahnya lagi, kemacetan mengular ke sisi jembatan yang satunya karena kendaraan dari arah Jalan MT. Haryono (Dinoyo) banyak yang memutar arah menuju Jalan Mayjend. Panjaitan (Betek) melalui jembatan. Jadi jembatan ini benar-benar terlihat penuh sesak, sepertinya kelebihan beban.

Saya pun memilih untuk berjalan kaki lagi menuju ke rumah. Ternyata kemacetan tidak berhenti di pertigaan Jalan Bunga Coklat. Tak ingin mengetahui seberapa panjang lagi kemacetan tersebut, saya bergegas untuk segera sampai di rumah karena sudah dilelahkan oleh cuaca yang panas.

Saya pun tidak bisa memikirkan apa penyebab kemacetan-kemacetan tersebut, apakah karena banyaknya kendaraan beroda empat, ruas jalan yang tidak mencukupi, atau lokasi ujian SBMPTN yang memang dipusatkan di UB. Semoga Pemerintah Kota Malang terutama wali kota baru yang akan dilantik dapat menyelesaikan masalah utama kota ini sampai tuntas.