Rabu, 30 Juli 2014

Idulfitri & Spirit Kepedulian Sosial

Khotbah Idulfitri 1435 H
Idulfitri & Spirit Kepedulian Sosial
Oleh: Dr. H. M. Hadi Masruri, Lc., M.A., M.Ag.


Khotbah Idulfitri 1435 H/2014 M
Idulfitri dan Spirit Kepedulian Sosial
Dr. H. M. Hadi Masruri, Lc. M.A., M.Ag.
Di Masjid Al-Muhajirin Rahmatan Lil ‘Alamin
Jl. Bunga Cengkeh No. 50 Malang 65141

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر 3× الله أكبر 3× الله أكبر 3×
الله أكبر فوق كل من تكبر وتجبر
الله أكبر وكل ما سوى الله أصغر
الحمد لله الذي جعل دين الفطرة خير الأديان, والذي فضل اللإنسان على سائر الحيوان, حمدا لمن جعل للصائمين عيدا يعود في كل عام...
أشهد أن لاإله ألا الله وحده لا شريك له الذي خلق الإنسان وعلمه البيان
واشهد أن مُحَمَّدا عبده ورسوله ونبيه الذي غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر
اللهم صل عل مُحَمَّد وعل آله وصحبه أجمعين ومن تبعه بإحسان إلى يوم الذين
سبحان القائل في التنزيل الحكيم: ﴿ أرأيت الذي يكذب بالدين؟ فذلك الذي يدع اليتيم, ولا يحض على طعام المسكين﴾ [الماعون: 1—3] ﴿رب اشرح لي صدري ويسرلي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي﴾, أما بعد:
فيا عباد الله أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله فلباس التقوى ذلك خير, وتوبوا إلى الله توبة نصوحا يسعدكم في يومكم هذا يوم عظيم يوم عيد الفطر المبارك...

Bapak dan ibu jamaah salat Id yang dirahmati Allah,
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt. atas rahmat dan anugerah-Nya jua pada hari ini, kita dapat mengumandangkan takbir dan tahmid. Takbir dan tahmid adalah sebuah penegasan, sebuah deklarasi bahwa Allah jualah yang mempunyai sifat ke-maha-an dan kesempurnaan, sehingga patut disembah dan dipuja, tidak ada satu kekuatan apapun melebihi kekuatan Allah swt.

﴿لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم﴾

Pada hari yang fitri ini, seluruh umat Islam merayakan kemenangan, menang dari sebuah peperangan besar (al-jihad al-akbar) antara suara hati yang fitri melawan hawa nafsu. Fitrah mengajak kepada ketakwaan, sementara hawa nafsu senantiasa mengajak kepada keburukan dan kemungkaran. Berbahagialah kita yang pada hari ini telah menang, selama sebulan penuh di bulan Ramadan, kita berperang melawan hawa nafsu dengan menahan sebagian keburukan-keburukan fisik dan menjauhi semua sifat yang tidak terpuji dengan berpuasa, salat Tarawih, bertadarus, beriktikaf, mengeluarkan zakat dan sedekah, dan lain-lain. Meskipun banyak di antara kita yang merayakan kemenangan tanpa ikut bertanding, tanpa mau bersusah payah menahan diri dari godaan nafsu dan menjalankan syariat berpuasa.

Pada hari ini, kita berkumpul di tempat yang berbahagia ini untuk merayakan hari berbuka (Idulfitri), yang berarti bahwa pada hari ini, kita diharamkan berpuasa, karena al-fitr berarti berbuka. Al-fitr juga berarti bersih. Al-fitrah berarti asal mula, watak, atau tabiat bawaan manusia yang suci dan bersih. Maka, Idulfitri berarti kembali ke sifat dasar manusia yang bersih, suci, merdeka, dan bebas dari semua penyakit hati, seperti sombong, iri hati, dengki, amarah, dan seterusnya. Maka pada hari ini kita seperti dilahirkan kembali. Dalam agama Islam, bayi yang lahir tidak membawa dosa apapun. Dalam sebuah hadis, nabi Muhammad saw. bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه (رواه البخاري ومسلم)
“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitri), kemudian dipengaruhi keluarganya, sehingga menjadi Yahudi, Kristen, atau Majusi.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Meskipun begitu, kelahiran kembali itu bukanlah secara fisik, karena pepatah Arab mengatakan
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْد وَلـٰكِنَّ الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ (حكمة عربية)
Idulfitri bukan berarti fisiknya yang baru, bukan pakaiannya yang baru, melainkan semangat ketakwaannya yang baru, jiwa yang bersihlah yang dilahirkan kembali, semangat ibadahnya yang dilahirkan kembali, dan seterusnya.

Hakikat Idulfitri yang bermakna kembali ke fitrah kemanusiaan terasa sedemikian penting untuk kita renungkan di sini, di saat kita secara terus menerus menyaksikan nilai-nilai kemanusiaan sudah mulai luntur dan punah. Pembantaian saudara-saudara kita—muslim di Palestina—oleh Israel seperti tidak mengenal titik henti. Anak-anak, perempuan, dan warga sipil menjadi korban kebiadaban Israel. Di Indonesia sendiri, kejahatan, pembunuhan, perampokan, terorisme, dan korupsi—semakin meningkat dari hari ke hari—adalah hal yang menyebabkan ketimpangan sosial semakin menajam, yang kaya terus menumpuk kekayaan dan harta dan yang miskin semakin terhimpit dan menjerit.

Untuk kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci, kita perlu menghayati kembali makna puasa yang telah kita jalani selama sebulan penuh.

Allahu akbar 3x wa lillahi al-hamd

Jamaah salat Id yang dirahmati Allah,
Dalam sebuah riwayat, nabi Muhammad saw, suatu hari di bulan Ramadan, mendengar seorang perempuan sedang berpuasa memaki-maki pembantunya. Nabi lantas mengambil makanan dan berkata kepada perempuan itu: “Makanlah!” Jawab perempuan itu: “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” “Bagaimana mungkin Anda berpuasa, padahal Anda telah mencaci maki pembantumu.” Kemudian nabi bersabda: “Berpuasa tidak hanya mencegah makan dan minum, Allah juga menjadikan puasa sebagai pencegah dari hal-hal yang tercela.”

Dari sini, inti dari puasa adalah pencegahan dan makna pencegahan inilah yang disebut sebagai imsak (al-shiyam ya’ni al-imsak). Pencegahan di sini mengandung dua makna: Imsak bi dan Imsak ‘an.
  1. Imsak bi berarti berpegang teguh pada ajaran dan syariat Islam dalam berpuasa, yakni menjalankan puasa sesuai syarat dan rukunnya dengan niat berpuasa dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.
  2. Imsak ‘an berarti mencegah atau menahan diri dari hal-hal yang dapat merusak pahala puasa dengan menjauhkan diri dari semua penyakit hati, seperti marah, sombong, iri hati, dengki, dusta, gibah, berbuat keji, menyakiti orang lain, dan seterusnya.

Makna pencegahan atau imsak inilah identik atau sama dan sebangun dengan makna takwa yang berasal dari waqa-yaqi-wiqayah yang berarti pencegahan (tindakan preventif). Maka orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mampu mencegah diri dari semua perilaku buruk dan maksiat dan menghindar dari semua penyakit hati dan inilah sebenarnya hakikat tujuan berpuasa (la’allakum tattaqun) sesuai firman Allah dalam Alquran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿۱۸۳﴾
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Dari sini, jelaslah perbedaan antara orang-orang yang berpuasa dan orang-orang yang lapar, sebagaimana disabdakan oleh nabi Muhammad saw:
"(قل الصائمون وكثر الجواع) وفي رواية أخرى: (رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش [وفي رواية إلا الظمأ], ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر)" رواه ابن ماجه عن أبي هريرة
“Sedikit orang-orang yang berpuasa, namun banyaklah orang-orang yang lapar,” dalam riwayat lain disebutkan: “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala dari puasanya kecuali lapar dan dahaga dan berapa banyak orang yang mendirikan salat malam (tarawih) tidak mendapatkan pahala kecuali hanya rasa penat begadang.” (H.R. Ibnu Majah dan Abu Hurairah)

Allahu akbar 3x wa lillahi al-hamd

Jamaah salat Id yang dirahmati Allah,                             
Menghayati makna Id dan makna puasa pada event Idulfitri ini terasa sedemikian penting, karena realitasnya banyak orang yang melaksanakan berpuasa (imsak bi), tapi tidak melakukan imsak ‘an. Secara lahir, banyak di antara kita yang salat dan berpuasa, namun tidak sedikit orang yang tidak menahan diri untuk tidak merugikan dan menyakiti orang lain. Idulfitri kali ini juga berlangsung di tengah bangsa yang mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan yang luar biasa, manusia dikuasai oleh nafsu serakah: terhadap kekayaan, kedudukan, dan jabatan. Nafsu serakah akan mendorong seseorang untuk ingin berkuasa bahkan dengan berbagai cara yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, seperti berbuat curang dalam pemilu dan melakukan black campaign. Nafsu serakah mendorong seseorang untuk berbuat korupsi, mempertahankan jabatannya selama-lamanya, dan akhirnya tidak peduli terhadap orang-orang kecil di sekitarnya, di mana di sekelilingnya banyak orang-orang yang lapar dan papa, anak-anak yatim yang meratap, dan seterusnya. Padahal tugas seorang pemimpin adalah menyejahterakan rakyat yang dalam bahasa Alquran adalah “memberi makan orang-orang yang lapar dan memberi jaminan keamanan” sesuai yang disebutkan dalam Alquran surat Quraisy:
الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ ﴿۴﴾
“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Q.S. Quraisy: 4)

Allahu akbar 3x wa lillahi al-hamd

Jamaah salat Id yang dirahmati Allah,
Untuk itu, dalam kesempatan yang fitri ini dan di atas mimbar yang mulia ini, saya mengajak untuk kembali kepada fitrah, kembali memunculkan rasa kemanusiaan kita yang telah hilang, memunculkan kembali jiwa dan spirit sosial kita yang kian hari kian menipis, melahirkan kembali jiwa kepedulian kita terhadap fakir miskin di lingkungan kita, terhadap kaum duafa di dalam masyarakat kita. Sudah berapakah anak-anak yatim yang kita santuni? Sudahkah kita menyelamatkan masyarakat dan lingkungan kita dari penyakit sosial? Sehingga kita tidak termasuk golongan yang disindir oleh Alquran sebagai orang-orang yang mendustakan agama, sebagaimana firman Allah:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿۱﴾ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿۳﴾ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿۴﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿۵﴾
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,” (Q.S. Al-Ma’un: 1—5)

Dalam ayat ini, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa indikator orang beragama adalah:
1.             Mempunyai jiwa kepedulian sosial yang tinggi
Jiwa peduli sama yang papa dalam bahasa Alquran adalah sikap santun atau menyantuni fakir miskin dan tidak menyia-nyiakan dan berlaku kasar kepada anak yatim (yadu’u al-yatim). Dalam banyak ayat lain dalam Alquran disebutkan bahwa ketidakpedulian terhadap fakir miskin ini dapat menyeret seseorang ke dalam api neraka. Para penghuni neraka itu kelak ditanya oleh malaikat, “Apa yang membawa kalian ke neraka?” Mereka menjawab, “Dan kami tidak memberi makan orang miskin.”

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ﴿۴٢﴾ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ﴿۴۳﴾ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ﴿۴۴﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ﴿۴۵﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ﴿۴۶﴾ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ ﴿۴۷﴾
“"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian".” (Q.S. Al-Muddassir: 42—47)

Dalam pandangan Islam, harta adalah amanat yang harus ditunaikan pada jalan yang sudah disyariatkan, sehingga sikap menimbun harta dan tidak menafkahkannya di jalan yang benar merupakan sikap yang tercela (Q.S. Al-Humazah: 1—2). Lebih dari itu, Alquran menegaskan bahwa dalam harta yang diberikan Allah kepada kita terdapat hak orang lain yang tidak mampu dan papa:
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ﴿۱۹﴾
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Q.S. Az-Zariyat: 19)

Hal ini jelaslah, bahwa menyantuni kaum duafa dan fakir miskin tidak hanya merupakan indikator orang beriman, melainkan juga kewajiban yang harus ditunaikan, dan mengabaikannya adalah dosa yang dapat menyeret pelakunya ke dalam api neraka, sehingga Islam merasa perlu menjelaskan mengapa harus mengeluarkan zakat, yang di antara tujuannya tidak hanya menyucikan jiwa dan spiritual saja, sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 103:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿۱۰۳﴾
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. At-Taubah: 103)

Namun, bertujuan untuk menciptakan keseimbangan sosial, sehingga tercipta kehidupan yang harmoni antara si kaya dan si miskin. Lebih dari itu, kehidupan harmoni akan melahirkan sikap dan perilaku terpuji (al-akhlaq al-karimah), gotong royong, sesrawung, saling membantu, dan saling asah, asih, dan asuh, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Alquran:
مَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿۷﴾
“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya.” (Q.S. Al-Hasyr: 7)

Rasulullah sendiri menegaskan berkali-kali dalam banyak hadisnya, bahwa seseorang tidaklah dipandang beriman atau muslim sebelum mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri dan berperilaku santun terhadap tetangga di sekelilingnya, di antaranya:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (رواه البخاري)
“Orang muslim adalah orang yang memberi jaminan keselamatan kepada orang lain dari kejahatan lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari)

Hal ini menegaskan bahwa indikator orang yang beriman adalah santun dan peduli kepada masyarakat di sekitarnya. Ini berarti bahwa orang yang tidak santun kepada fakir miskin di sekitarnya belum cukup atau tidak layak disebut sebagai orang beriman, meskipun tampak secara lahir rajin mendirikan salat.
2.             Menjalankan ibadah sebagai perintah agama
Aspek sosial sama pentingnya dengan aspek spiritual yang tercermin melalui ibadah ritual, terutama salat. Hal ini dapat dilihat bagaimana perintah salat senantiasa dibarengi dengan perintah zakat (aqimu al-shalat wa atu al-zakat). Orang yang mendirikan salat, harus juga menunaikan zakat. Zakat adalah simbol bagi kepedulian sosial. Hal ini berarti bahwa ibadah spiritual saja tidak cukup untuk membawa seseorang masuk ke surga, sehingga dalam surah Al-Ma’un di atas disebutkan bahwa orang-orang yang mendirikan salat masih dipandang sebagai celaka, ketika dia melupakan kewajiban sosialnya dan lalai terhadap lingkungan sosial di sekitarnya yang menjerit kelaparan:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿۴﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿۵﴾
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,” (Q.S. Al-Ma’un: 4—5)

Allahu akbar 3x wa lillahi al-hamd

Jamaah salat Id yang dirahmati Allah,
Dari sini, sebagai manusia beragama, tidak sepatutnya kita berdiam diri dan berpangku tangan, kita harus mulai dari diri kita sendiri dengan memperbaiki kondisi sosial masyarakat kita, dimulai dari keluarga kita, kerabat kita, lingkungan sosial masyarakat kita, bangsa, dan tanah air kita:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿۶﴾
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim: 6)

Idulfitri harus menjadi momentum untuk mengawali kehidupan baru dan mengembalikan rasa kemanusiaan kita—semua pihak—baik pejabat, pedagang, dan rakyat jelata, masing-masing melakukan kewajibannya secara fair dengan semangat imsak bi dan imsak ‘an, sehingga kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, saling memaafkan, saling memberi dan saling mengasihi.

جعلنا وإياكم من العائدين والفائزين, وأدخلنا وإياكم في زمرة الموحدين والحمد لله رب العالمين: اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات,
اللهم اجعل هذا بلدا آمنا وارزق أهله من الثمرات من آمن منهم بالله واليوم الآخر, اللهم أءز الإسلام والمسلمين وأصلح ولات أمورهم ووفقهم إلى ما تحبه وترضاه برحمتك يا أرحم الراحمين,
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار,
سبحان اللهموتحيتهم فيها سلام وآخر دعواهم أن الحمد لله رب العالمين,
والسلام عليكم ورحمة لله وبركاته. والله أعلم بالصواب.

Malang, 28 Juli 2014
H. M. Hadi Masruri

Simpan sebagai Dokumen Microsoft Word