Selasa, 20 Agustus 2013

Daur Ulang Ponsel

Pendahuluan
Zaman semakin maju dan teknologi semakin canggih. Manusia dituntut agar lebih kreatif dalam memecahkan sebuah masalah baik masalah ekonomi, kualitas hidup, ekonomi, dan sosial. Semakin bertambah jumlah penduduk dari tahun ke tahun, membuat kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier semakin meningkat juga. Hal tersebut secara tidak langsung membuat sumber daya alam di bumi semakin terkuras habis akibat memenuhi kebutuhan hidup semua umat manusia. Jika tidak ada suatu tindakan serius, secara perlahan kita akan semakin kehabisan segala kebutuhan kita. Hal ini mungkin terjadi apalagi dengan didorong terus kemajuan teknologi yang semakin canggih. Maka dari itu suatu hal yang baru yang akan digunakan oleh semua kebutuhan harus dibuat dari sesuatu yang sudah ada melainkan kita melakukan recycle dan reduce untuk menanggulangi kasus yang seperti ini. Dengan kita memanfaatkan sesuatu yang sudah ada berarti secara tidak langsung kita mulai berhenti mengeruk habis segala sumber kebutuhan yang berasal dari bumi ini. Jika masalah seperti ini terjadi dan ditanggulangi dengan cara seperti ini, kita bisa memenuhi segala kebutuhan kita tanpa khawatir untuk kehabisan sumber daya alam yang sudah ada.

Material yang bisa didaur ulang terdiri dari sampah kaca, plastik, kertas, logam, tekstil, dan barang elektronik. Meskipun mirip, proses pembuatan kompos yang umumnya menggunakan sampah biomassa yang bisa didegradasi oleh alam, tidak dikategorikan sebagai proses daur ulang. Daur ulang lebih difokuskan kepada sampah yang tidak bisa didegradasi oleh alam secara alami demi pengurangan kerusakan lahan. Secara garis besar, daur ulang adalah proses pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan, dan pemrosesan material baru untuk proses produksi.

Pada pemahaman yang terbatas, proses daur ulang harus menghasilkan barang yang mirip dengan barang aslinya dengan material yang sama, contohnya kertas bekas harus menjadi kertas dengan kualitas yang sama, atau busa polistirena bekas harus menjadi polistirena dengan kualitas yang sama. Seringkali hal ini sulit dilakukan karena lebih mahal dibandingkan dengan proses pembuatan dengan bahan yang baru.

Proses daur ulang alumunium dapat menghemat 95% energi dan mengurangi polusi udara sebanyak 95% jika dibandingkan dengan ekstraksi alumunium dari tambang hingga prosesnya di pabrik. Penghematan yang cukup besar pada energi juga didapat dengan mendaur ulang kertas, logam, kaca, dan plastik.

Isi
Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Perangkat elektronik yang bernama ponsel ini sudah menjadi tentengan setiap orang. Tidak hanya di tanah air, melainkan juga di negara luar sana. Sebagai alat komunikasi, ponsel memang menjadi kebutuhan pokok. Namun saking banyaknya produk ini berkeliaran, makin banyak pula sampah atau limbah yang dihasilkan. Dengan teknologi baru, tak lama ini limbah ponsel ternyata bisa juga di daur ulang.

Handphone atau yang lebih dikenal dengan HP sudah dikenal oleh berbagai kalangan. Mulai dari anak kecil hingga lansia, hal ini membuka peluang bagi para pecinta HP utamanya para produsen HP untuk menciptakan HP dengan berbagai macam merk sehingga bisa mendapatkan hasil yang tak terhingga. Peningkatan pengguna handphone dikarenakan manfaat yang diberikan oleh handphone sangat banyak, diantaranya: dengan adanya handphone memudahkan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain, selain itu pada saat sekarang sudah banyak fitur-fitur yang ada di handphone yang memudahkan para penggunanya seperti kamera, radio, pemutar musik, dll.

Fasilitas internet menjadi alasan bagi pengguna dalam membeli ponsel. Dan Indonesia pun menjadi pengguna ponsel terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Prediksi InMobi tentang pengguna ponsel nyaris dipastikan kebenarannya. Setelah pada 2009 pengguna ponsel di Indonesia mencapai angka 100 juta lebih, maka untuk periode 2010 ini InMobi meramal angka pengguna seluler di Indonesia akan naik menjadi 146 juta. Ledakan yang hampir mencapai kenaikan 50% itu lantaran InMobi sudah mencium gelagat akan beredarnya ponsel dengan harga yang relatif murah. Dan tentu saja, dengan fasilitas jejaring sosial yang menggiurkan para pembelinya.

Sebuah ponsel berisi berbagai macam piranti elektronik seperti timah yang kebanyakan untuk men-solder komponen, arsenik, dan brominan--sejenis senyawa atom dengan nomor 35--yang sangat membahayakan kesehatan. Ponsel-ponsel lama kebanyakan menggunakan baterai NiCad yang di dalamnya terdapat cadmium, toxin, dan carcinogen. Diperkirakan sekitar 130 juta ponsel atau sekitar 65.000 ton yang terbuang akan tidak digunakan lagi pada tahun-tahun berikutnya.

Beberapa negara seperti Australia dan Swiss mempunyai program khusus untuk menanggulanginya, seperti mendaur ulang ponsel-ponsel lama tersebut. Di Amerika Serikat, pemerintah federal tidak memusingkan hal tersebut. Akan tetapai beberapa negara bagian termasuk Callifornia mulai mengambil langkah khusus untuk menanggulanginya. The California Cell Phone Recycling Act bertugas untuk mencari ponsel-ponsel lama dari para konsumen untuk didaur ulang. Setelah diadakannya pertemuan, maka mereka sepakat untuk mengatur harga dan jumlah produk yang layak di pasarkan di Eropa dan hal ini diatur oleh Eropean Union, dengan begitu dirasa dapat mengurangi tingkat pembuangan ponsel-ponsel bekas. Kenyataan di lapangan terdapat tiga kata yang sangat sering dilakukan yaitu: mengurangi, daur ulang, dan membuang. Ketiganya dijadikan alasan utama untuk masalah pembuangan ponsel sekarang ini. Daur ulang dan membuangnya sangat sering terjadi. Banyak perusahaan, pabrikan ponsel, dan pengumpul sampah ponsel sedang berusaha mencari jalan keluar agar masalah ini tidak berlarut-larut.

Perusahaan seperti AT&T, Cingular dan Tracfone menawarkan ponsel hasil daur ulang kepada para pengguna ponsel secara cuma-cuma. T-Mobile memberikan keleluasaan kepada penggunanya untuk menggunakan ponsel hasil daur ulang yang kompatibel dengan jaringan GSM (Global System for Mobile Communications). Atlanta Phone Recycler Collective Good merupakan salah satu dari beberapa perusahaan kecil yang mendedikasikan hidup mereka untuk ponsel. Collective Good tersebar sekitar 300 tempat di Amerika dan Kanada, termasuk San Diego YWCA. Kelompok ini mengumpulkan ponsel-ponsel dan mengirimkanya kepada para pendaur ulang untuk dapat dijual kembali. Collective Good juga menerima segala model ponsel yang masih dapat digunakan. Hal ini juga dapat mendatangkan uang untuk seperempat bagian lainnya, yang dapat didaur ulang dan dijual kembali, khususnya untuk daerah pemasaran di Amerika Latin, di mana orang-orang di sana tidak begitu tertarik akan ponsel-ponsel baru.

Penutup
Industri untuk pendaurulangan ponsel memang tidak sebanyak industri pembuat ponsel, namun di satu sisi industri ini mulai berkembang besar, dan rata-rata tidak bertujuan untuk keuntungan mereka sendiri. Namun, daur ulang ponsel secara nyata telah memberikan solusi terhadap semakin menggunungnya sampah ponsel. Dampaknya mungkin sedikit banyak telah mengurangi menumpuknya ponsel bekas atau ponsel yang tak terpakai. Selain itu ternyata pendaurulangan handphone dapat mengurangi emisi karbon dari aktivitas teknologi informasi karena Untuk memproduksi sebuah telepon genggam, misalnya, memerlukan penambangan dengan mengambil tanah sebanyak 100 kg. Padahal, kalau dibuang, sebuah ponsel memerlukan waktu 400 juta tahun agar dapat terurai.

Sumber: